Senin, 24 Desember 2012

Psikologi Dan Penerapannya Dalam Manusia Dan Bakat Lingkungannya


TUGAS
PSIKOLOGI KESEHATAN
Psikologi Dan Penerapannya Dalam Manusia Dan Bakat Lingkungannya
LOGO UNHALU ASLI WARNA

OLEH :
FENTI FARIDA
F1D2 10 184

PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu: 1) psi/che yang berarti jiwa; 2) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. Karena beberapa alasan tertentu (seperti timbulnya konotasi/arti lain yang menganggap psikologi sebagai ilmu yang langsung menyelidiki jiwa), sekurang-kurangnya selama dasawarsa terakhir ini menurut hemat penyusun istilah ilmu jiwa itu sudah sangat jarang dipakai orang.
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perilaku dan kognisi manusia. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa- apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah). Sedangkan dalam filsafat yang sebenarnya “ibu kandung” psikologi itu-psikologi berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan. Karena kontak dengan berbagai disiplin itulah, maka timbul bermacam-macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda, seperti:
1.    psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life);
2.    psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind),
3.    psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behavior); dan lain-lain definisi yang sangat bergantung pada sudut pandang yang mendefinisikannya.
Pada asasnya, psikologi menyentuh banyak bidang kehidupan diri organisme baik manusia maupun hewan. Para ahli, antara lain WilliamJames (1842-1910), menganggap psikologi sebagai ilmupengetahuan mengenai kehidupan mental. Namun, John B.Watson (1878-1958), tokoh aliran behaviorisme yang radikalitu, tidak puas dengan definisi James tersebut lalumengubahnya menjadi “ilmu pengetahuan tentang tingkah laku(behavior) organisme” dan sekaligus menafikan (menganggaptidak ada) eksistensi ruh dan kehidupan mental. Eksistensi(keberadaan) ruh dan kehidupan internal manusia, menurut B.Watson dan kawan-kawan tak dapat dibuktikan karena tidakada, kecuali dalam khayalan belaka.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat, bagaimana manusia baik secara orang- seorang maupun secara kelompok, dan manusia dalam hubungannya dengan kelompoknya bertingkah laku. Seorang guru misalnya berhasil membangkitkan motivasi belajar murid-muridnya. Seorang pemimpin pabrik berhasil menggerakkan massa untuk membangun, hanya melalui pidato. Semua itu merupakan contoh penerapan psikologi yang berhasil dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, walaupun psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang masih baru, namun diakui telah banyak memberikan sumbangan yang berarti pada bidang-bidang profesi lain.
Objek psikologi adalah tingkah laku manusia. Dalam berbagai bidang kehidupan yang banyak keterlibatan manusia di dalamnya maka diperlukan ilmu psikologi. Jadi, peran psikologi sangat besar dalam memperlakukan manusia secara tepat. Begitu pula dalam bidang pendidikan. Dalam bidang tersebut banyak keterlibatan manusia, khususnya manusia yang sedang tumbuh dan kembang sehingga sangat diperlukan penerapan prinsip-prinsip psikologi kepada peserta didik yang sedang dalam proses pendidikan. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa peran psikologi pendidikan adalah dapat memperlakukan peserta didik secara lebih tepat agar ia dapat berkembang secara optimal.
Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu adalah sebagai berikut:
·      Menjelaskan, yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif
·       Memprediksikan, Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi
·       Pengendalian, Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya preventif atau pencegahan, intervensi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.

Sub-disiplin psikologi olahraga tumbuh dari induk ilmunya yaitu psikologi, yang mengaplikasikan pendekatan psikologis terhadap masalah-masalah yang muncul dalam kegiatan olahraga. Orientasi pendekatannya bersifat behavioral (fokusnya pada perilaku pelatih dan atlet yang dipengaruhi lingkungannya), psychophysiological (dasarnya adalah proses fisiologis dari otak yang berpengaruh terhadap kegiatan fisik, terutama denyut jantung, aktivitas gelombang otak, dan kerja otot), dan cognitive-behavioral yang mengacu pada kognisi dan lingkungan sebagai faktor penentu perilaku (Weinberg & Gould, 1995).
Psikologi mengkaji manusia baik secara individu ataupun kelompok, mengkajikondisi intrapersonal maupun interpersonal manusia, mengkaji manusia yang sehat dan yang ‘sakit’, dan juga kajian lain yang memang amat luas dan kerap kali bersinggungan dengan domain keilmuan lain. Ilmu-ilmu humanoria seperti sosiologi, antropologi, sejarah, filsafat manusia; jelas berkaitan erat dengan psikologi. Ilmu lain seperti ilmu politik, manajemen, ekonomi, bahasa pun sedikit banyak berkaitan dengan psikologi. Bahkan cabang ilmu eksak dan seni, seperti biologi, faal, statistika, berperan vital dalam kajian penelitian ilmu psikologi.
Terdapat tiga bentuk layanan psikologi olahraga yaitu layanan klinis, layanan edukatif, dan layanan penelitian (Anshel, 1990b). Layanan klinis meladeni atlet yang menderita masalah emosional yang gawat seperti depresi dan rasa panik. Layanan edukatif terkait dengan komponen pengajaran kepada atlet dalam membantu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan psikologis seperti rileksasi, konsentrasi, visualisasi, dan manajemen stres, termasuk juga layanan konseling kepada atlet yang membutuhkan. Layanan penelitian menjadi tanggungjawab para akademisi yang menjadikan psikologi olahraga sebagai bidang keahliannya. Hasil-hasil penelitiannya harus dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, dan dipresentasikan dalam seminar atau konferensi yang relevan. Wann (1997; dalam Apruebo, 2005) mengemukakan satu bentuk layanan lain yaitu layanan aplikatif, di mana psikolog olahraga menerapkan teori dan hasil penelitian ke dalam praktek di lapangan. Tujuannya untuk membantu atlet memperoleh kesejahteraan psikologis dan kesehatannya, di samping dalam usaha meningkatkan penampilannya.
Manusia memiliki hasrat untuk mencari makna hidup, bila seseorang berhasil menemukan makna hidupnya maka hidupnya akan bahagia demikian sebaliknya bila tidak menemukannya maka hidupnya akan hampa. Dan menurut frankl kehilangan makna hidup ini banyak diaami oleh orang-orang yang hidup dalam dunia modern saat ini.
Psikologi dan penerapannya dalam kehidupan kemasyarakatn dikenal adanya “pengembangan masyarakat”, yang berusaha mendayagunakan potesi-potensi manusiawai masyrakat untuk lebih memajukan peri kehidupan dan kemakmuran masyarakat. Dengan pendekatan psikologi diadakanlah program pendidikan masyarakat, p[rogram pengajaran sambil bekerja, program pemberantasan buta kasara dan sebagainya.
            Diangnosa masalah-masalah social merupakan kegiatan para ahli”pekerja social” dalam menentukan penyebab penyakit-penyakit sosial sehingga ditemukan jalan keluar yang dapat ditempih dan dijalankan dalam terapi sosial.
Murphy (2005) menanggapi perkembangan dan aplikasi psikologi olahraga terkait dengan kenyataan bahwa olahraga telah menjadi ajang bisnis di seluruh dunia. Tidak ada garansi dalam mencapai prestasi tinggi dalam olahraga; tetapi aplikasi yang sistematis melalui pendekatan ilmiah seperti psikologi olahraga mampu memberikan peluang pada atlet untuk berhasil di cabangnya. Murphy mengatakan bahwa ”The guiding force in sport psychology is a theoretical approach called cognitive-behavioral psychology” (hlm xii) di mana fokusnya adalah pada pikiran manusia yang tidak bisa terlihat (kognisi), dan pada tindakan manusia yang tampak (perilaku). Asumsinya adalah bahwa perilaku manusia bisa diubah dengan cara mengubah cara berfikirnya.

Daftar Pustaka
                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar