TUGAS
PSIKOLOGI
KESEHATAN
“Psikologi
Dan Penerapannya Dalam Manusia Dan Bakat Lingkungannya”

OLEH :
FENTI
FARIDA
F1D2 10 184
PEMINATAN
EPIDEMIOLOGI
FAKULTAS
KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
HALUOLEO
KENDARI
2012
Psikologi
yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata bahasa Inggris
psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa
Greek (Yunani), yaitu: 1) psi/che yang berarti jiwa; 2) logos yang berarti
ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. Karena beberapa
alasan tertentu (seperti timbulnya konotasi/arti lain yang menganggap psikologi
sebagai ilmu yang langsung menyelidiki jiwa), sekurang-kurangnya selama
dasawarsa terakhir ini menurut hemat penyusun istilah ilmu jiwa itu sudah
sangat jarang dipakai orang.
Psikologi adalah sebuah
bidang ilmu pengetahuan yang
mempelajari mengenai perilaku dan kognisi manusia.
Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa
Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa)
dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis,
psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan
apa- apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah).
Sedangkan dalam filsafat yang sebenarnya “ibu kandung” psikologi itu-psikologi
berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan
akal, kehendak, dan pengetahuan. Karena kontak dengan berbagai disiplin itulah,
maka timbul bermacam-macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda,
seperti:
1. psikologi adalah ilmu mengenai
kehidupan mental (the science of mental life);
2. psikologi adalah ilmu mengenai
pikiran (the science of mind),
3. psikologi adalah ilmu mengenai
tingkah laku (the science of behavior); dan lain-lain definisi yang sangat
bergantung pada sudut pandang yang mendefinisikannya.
Pada asasnya, psikologi menyentuh
banyak bidang kehidupan diri organisme baik manusia maupun hewan. Para ahli,
antara lain WilliamJames (1842-1910), menganggap psikologi sebagai
ilmupengetahuan mengenai kehidupan mental. Namun, John B.Watson (1878-1958),
tokoh aliran behaviorisme yang radikalitu, tidak puas dengan definisi James
tersebut lalumengubahnya menjadi “ilmu pengetahuan tentang tingkah
laku(behavior) organisme” dan sekaligus menafikan (menganggaptidak ada)
eksistensi ruh dan kehidupan mental. Eksistensi(keberadaan) ruh dan kehidupan
internal manusia, menurut B.Watson dan kawan-kawan tak dapat dibuktikan karena
tidakada, kecuali dalam khayalan belaka.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat
dilihat, bagaimana manusia baik secara orang- seorang maupun secara kelompok,
dan manusia dalam hubungannya dengan kelompoknya bertingkah laku. Seorang guru
misalnya berhasil membangkitkan motivasi belajar murid-muridnya. Seorang
pemimpin pabrik berhasil menggerakkan massa untuk membangun, hanya melalui
pidato. Semua itu merupakan contoh penerapan psikologi yang berhasil dalam
kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, walaupun psikologi
merupakan ilmu pengetahuan yang masih baru, namun diakui telah banyak
memberikan sumbangan yang berarti pada bidang-bidang profesi lain.
Objek psikologi adalah tingkah laku manusia. Dalam berbagai bidang kehidupan
yang banyak keterlibatan manusia di dalamnya maka diperlukan ilmu psikologi.
Jadi, peran psikologi sangat besar dalam memperlakukan manusia secara
tepat. Begitu pula dalam bidang pendidikan. Dalam bidang tersebut banyak keterlibatan
manusia, khususnya manusia yang sedang tumbuh dan kembang sehingga sangat diperlukan
penerapan prinsip-prinsip psikologi kepada peserta didik yang sedang dalam
proses pendidikan. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa peran
psikologi pendidikan adalah dapat memperlakukan peserta didik secara lebih tepat
agar ia dapat berkembang secara optimal.
Psikologi
memiliki tiga fungsi sebagai ilmu adalah sebagai berikut:
· Menjelaskan,
yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi.
Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif
·
Memprediksikan, Yaitu mampu meramalkan
atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil
prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi
·
Pengendalian, Yaitu mengendalikan
tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya
preventif atau pencegahan, intervensi atau treatment
serta rehabilitasi atau
perawatan.
Sub-disiplin
psikologi olahraga tumbuh dari induk ilmunya yaitu psikologi, yang
mengaplikasikan pendekatan psikologis terhadap masalah-masalah yang muncul
dalam kegiatan olahraga. Orientasi pendekatannya bersifat behavioral (fokusnya
pada perilaku pelatih dan atlet yang dipengaruhi lingkungannya),
psychophysiological (dasarnya adalah proses fisiologis dari otak yang
berpengaruh terhadap kegiatan fisik, terutama denyut jantung, aktivitas
gelombang otak, dan kerja otot), dan cognitive-behavioral yang
mengacu pada kognisi dan lingkungan sebagai faktor penentu perilaku (Weinberg
& Gould, 1995).
Psikologi
mengkaji manusia baik secara individu ataupun kelompok, mengkajikondisi
intrapersonal maupun interpersonal manusia, mengkaji manusia yang sehat dan
yang ‘sakit’, dan juga kajian lain yang memang amat luas dan kerap kali
bersinggungan dengan domain keilmuan lain. Ilmu-ilmu humanoria seperti
sosiologi, antropologi, sejarah, filsafat manusia; jelas berkaitan erat dengan
psikologi. Ilmu lain seperti ilmu politik, manajemen, ekonomi, bahasa pun
sedikit banyak berkaitan dengan psikologi. Bahkan cabang ilmu eksak dan seni,
seperti biologi, faal, statistika, berperan vital dalam kajian penelitian ilmu
psikologi.
Terdapat
tiga bentuk layanan psikologi olahraga yaitu layanan klinis, layanan edukatif,
dan layanan penelitian (Anshel, 1990b). Layanan klinis meladeni atlet yang
menderita masalah emosional yang gawat seperti depresi dan rasa panik. Layanan
edukatif terkait dengan komponen pengajaran kepada atlet dalam membantu
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan psikologis seperti rileksasi,
konsentrasi, visualisasi, dan manajemen stres, termasuk juga layanan konseling
kepada atlet yang membutuhkan. Layanan penelitian menjadi tanggungjawab para
akademisi yang menjadikan psikologi olahraga sebagai bidang keahliannya.
Hasil-hasil penelitiannya harus dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, dan
dipresentasikan dalam seminar atau konferensi yang relevan. Wann (1997; dalam Apruebo,
2005) mengemukakan satu bentuk layanan lain yaitu layanan aplikatif, di mana
psikolog olahraga menerapkan teori dan hasil penelitian ke dalam praktek di
lapangan. Tujuannya untuk membantu atlet memperoleh kesejahteraan psikologis
dan kesehatannya, di samping dalam usaha meningkatkan penampilannya.
Manusia
memiliki hasrat untuk mencari makna hidup, bila seseorang berhasil menemukan
makna hidupnya maka hidupnya akan bahagia demikian sebaliknya bila tidak
menemukannya maka hidupnya akan hampa. Dan menurut frankl kehilangan makna
hidup ini banyak diaami oleh orang-orang yang hidup dalam dunia modern saat
ini.
Psikologi dan penerapannya dalam kehidupan kemasyarakatn dikenal adanya
“pengembangan masyarakat”, yang berusaha mendayagunakan potesi-potensi manusiawai
masyrakat untuk lebih memajukan peri kehidupan dan kemakmuran masyarakat.
Dengan pendekatan psikologi diadakanlah program pendidikan masyarakat, p[rogram
pengajaran sambil bekerja, program pemberantasan buta kasara dan sebagainya.
Diangnosa masalah-masalah social merupakan
kegiatan para ahli”pekerja social” dalam menentukan penyebab penyakit-penyakit
sosial sehingga ditemukan jalan keluar yang dapat ditempih dan dijalankan dalam
terapi sosial.
Murphy
(2005) menanggapi perkembangan dan aplikasi psikologi olahraga terkait dengan
kenyataan bahwa olahraga telah menjadi ajang bisnis di seluruh dunia. Tidak ada
garansi dalam mencapai prestasi tinggi dalam olahraga; tetapi aplikasi yang
sistematis melalui pendekatan ilmiah seperti psikologi olahraga mampu
memberikan peluang pada atlet untuk berhasil di cabangnya. Murphy mengatakan
bahwa ”The guiding force in sport psychology is a theoretical approach
called cognitive-behavioral psychology” (hlm xii) di mana fokusnya adalah
pada pikiran manusia yang tidak bisa terlihat (kognisi), dan pada tindakan
manusia yang tampak (perilaku). Asumsinya adalah bahwa perilaku manusia bisa
diubah dengan cara mengubah cara berfikirnya.
Daftar Pustaka

